Kamis, 13 November 2014

Ekstensifikasi Pertanian

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa ekstensifikasi pertanian adalah perluasan areal pertanian ke wilayah yang sebelumnya belum dimanfaatkan manusia.

Populasi penduduk yang kian meningkat tidak sebanding dengan luasnya lahan yang digunakan untuk pemukiman.  Sedangkan kebutuhan akan pangan terus meningkat tajam.  Akibatnya, lahan-lahan produktif yang seharusnya dapat digunakan sebagai lahan pertanianyang menghasilkan kini mulai berkurang.  Ekstensifikasi pertanian harus dilakukan untuk mencegah penurunan produksi hasil pertanian dan untuk memenuhi kebutuhan pangan.
 


Pelaku ekstensifikasi pertanian
 

Untuk mengatasi masalah kurangnya lahan produktif pertanian, maka akan dilakukan ekstensifikasi pertanian.  Perluasan lahan dengan cara mencari lahan-lahan baru yang bisa ditanami tanaman dan menghasilkan produksi tanaman yang dapat memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
 

Ekstensifikasi pertanian ini bisa dilakukan oleh perseorangan (petani) maupun mengikuti program yang telah dilakukan oleh pemerintah.  Biasanya, ekstensifikasi pertanian atau perluasan lahan pertanian ini dilakukan secara mandiri, berkesinambungan dan mendapat pengawasan penuh dari pemerintah.  Salah satunya adalah dengan menggerakkan program transmigrasi.
 


Macam-macam ekstensifikasi pertanian
 

Ekstensifikasi pertanian ini banyak macamnya tergantung dari tempat atau lahan yang akan digunakan.  Pada dasarnya adalah, perluasan lahan ini untuk memperoleh hasil produksi tanaman yang memadai dan menggerakkan lahan pertanian yang belum terpakai.  Mengoptimalkan penggunaan lahan untuk meningkatkan produksi pangan di dalam negeri.
 


Macam-macam ekstensifikasi pertanian antara lain:
 

  • Perluasan lahan pertanian dengan pembukaan hutan baru.
Ekstensifikasi pertanian dengan melakukan perluasan dan pembukaan hutan yang masih tertutup atau belum pernah dijadikan lahan pertanian.  Sebenarnya, sistem nomaden atau berpindah-pindah ladangyang dilakukan masyaratakat di Indonesia sejak dulu merupakan hasil dari perluasan lahan yangmandiri. Pembukaan hutan ini dapat dilakukan secara serentak maupun perseorangan.  Membuka hutan baru yang lahannya masih subur diharapkan dapat meningkatkan produksi pertanian.
  • Perluasan lahan pertanian dengan pembukaan lahan kering
Ekstensifikasi pertanian dengan pembukaan lahan kering memerlukan penanganan lebih khusus.  Lahan kering merupakan sebuah lahan yang memiliki tanah kering, kurang subur dan mudah terbawa air/erosi. Dalam pemanfaatannya, lahan kering harus diberi perlakuan tambahan agar dapat meningkatkan produksi pertanian.  Salah satu caranya adalah dengan menanam tanaman yang dapat meningkatkan kesuburan tanah seperti jenis kacang-kacangan, pohon Lamtoro yang bisa menambah kandungan nutrisi dalam tanah.
  • Perluasan lahan pertanian dengan pembukaan Lahan gambut
Lahan gambut merupakan lahan yang sangat potensial untuk ditanami.  Lahan ini sangat subur dan berair.  Lahan ini dapat digunakan untuk meningkatkan hasil produksi tanaman.  Di Indonesia, lahan gambut ini banyak terdapat di Sumatera dan Kalimantan.


Dampak dari dilakukan ekstensifikasi pertanian
 
Terlepas dari tingginya permintaan akan kebutuhan pangan, ada dampak negatif yang akan ditimbulkan dari dilakukannya ekstensifikasi pertanian ini.  Dampaknya antara lain:
 
 Rusaknya ekosistem pada lahan-lahan tertentu
              Dengan dibukanya lahan-lahan pertanian seperti pada hutan, lahan gambut, tentu saja dapat meruak ekosistem yang ada di sekitarnya.  Dengan adanya kegiatan bercocok tanam dan pemukiman penduduk yangbaru tentu mengganggu populasi hewan dan tumbuhan.  Selain itu, hutan sebagai sumber produksi Oksigen terbesar yang sangat penting bagi manusia juga ikut hilang.
  Berkurangnya habitat alami hewan di alam
         Ekstensifikasi petanian ini dapat menyebabkan hewan yang tinggal dan hidup di alam menjadi terganggu habitatnya dan mulai tersingkir tempat hidupnya lebih jauh lagi. Tidak heran jika ada rombongan Gajah atau Harimau yang datang menyerang pertanian dan merusaknya karena mereka kelaparan dan tidak memiliki tempat tinggal lagi.

Oleh karena itu, diharapkan program ekstensifikasi pertanian yang seimbang dan selaras dengan perubahan alam maupun ekosistem yang ada, agar perluasan lahan menjadi bermanfaat dan tidak merusak alam.
 


Gampang bukan untuk di mengerti tentang ekstensifikasi pertanian?
 

Pertanian di Indonesia

Kenapa mesti membahas tentang bentuk pertanian di negara tercinta kita ini? Ya, biarpun ini tidak begitu penting tapi saya rasa ini tidak ada salahnya jika kita bisa mengetahui tentang bentuk-bentuk pertanian di Indonesia.
Adapun bentuk-bentuk pertanian yang ada di Indonesia yang sering kita jumpai.
  
Bentuk-Bentuk Pertanian Di Indonesia : 
1. Sawah 
Sawah adalah suatu bentuk pertanian yang dilakukan di lahan basah dan memerlukan banyak air baik sawah irigasi, sawah lebak, sawah tadah hujan maupun sawah pasang surut. 
2. Tegalan 
Tegalan adalah suatu daerah dengan lahan kering yang bergantung pada pengairan air hujan, ditanami tanaman musiman atau tahunan dan terpisah dari lingkungan dalam sekitar rumah. Lahan tegalan tanahnya sulit untuk dibuat pengairan irigasi karena permukaan yang tidak rata. Pada saat musim kemarau lahan tegalan akan kering dan sulit untuk ditubuhi tanaman pertanian. 
3. Pekarangan 
Perkarangan adalah suatu lahan yang berada di lingkungan dalam rumah (biasanya dipagari dan masuk ke wilayah rumah) yang dimanfaatkan / digunakan untuk ditanami tanaman pertanian. 
4. Ladang Berpindah 
Ladang berpindah adalah suatu kegiatan pertanian yang dilakukan di banyak lahan hasil pembukaan hutan atau semak di mana setelah beberapa kali panen / ditanami, maka tanah sudah tidak subur sehingga perlu pindah ke lahan lain yang subur atau lahan yang sudah lama tidak digarap.

Meningkatkan Produksi Tanaman

Banyak para petani yang bertanya tentang bagaimana hasil panen saya bisa naik? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akan sering dilemparkan kepada saudara-saudara. Jika saudara bingung untuk menjelaskan, ada perlunya saudara membaca postingan ini.
Dalam peningkatan produksi pertanian salah satu faktor yang tidak dapat dipisahkan adalah penggunaan sarana produksi. Penggunaan sarana produksi yang sesuai dan tepat akan memberikan dampak yang sangat baik terhadap perkembangan dan pertumbuhan tanaman. Adapun sarana produksi yang dibutuhkan antara lain bibit atau benih yang unggul, pupuk yang sesuai, pestisida dan alat alat pertanian lainnya.


1. Bibit/ Benih Unggul

Bibit unggul memiliki arti bibit yg memiliki sifat tahan terhadap serangan hama (penyakit), cepat berbuah, banyak hasilnya, dan dapat digunakan secara meluas (biasanya diambil dr buah atau bagian tanaman yg subur dan matang yg siap untuk ditanam lagi) .
Pengertian bibit unggul berkaitan dengan potensi genetik dari sifat tertentu pohon yang telah ditingkatkan kualitasnya seperti kecepatan tumbuh, bentuk batang, dan ketahanan terhadap penyakit. Untuk mendapatkan bíbit unggul memerlukan serangkaian proses seleksi atau disebut dengan program pemu1íaan. Dasar dari program pemuliaan adalah seleksi dari sifat fenotipik yang díinginkan dan dìlanjutkan dengan pengujian potensí genetik dari pohon seleksi.
2. Pupuk yang Sesuai
Pupuk adalah suatu bahan yang mengandung satu atau lebih unsur hara  bagi tanaman. Bahan tersebut berupa mineral atau organik, dihasilkan oleh kegiatan alam atau diolah oleh manusia di pabrik. Unsur hara yang diperlukan oleh tanaman adalah: C, H, O (ketersediaan di alam masih melimpah), N, P, K, Ca, Mg, S (hara makro, kadar dalam tanaman > 100 ppm), Fe, Mn, Cu, Zn, Cl, Mo, B (hara mikro, kadar dalam tanaman < 100 ppm).
Beberapa hal yang harus diperhatikan agar pemupukan efisien dan tepat sasaran adalah meliputi penentuan jenis pupuk, dosis pupuk, waktu dan frekwensi pemupukan serta pengawasan mutu pupuk.

3. Pestisida
Pestisida adalah bahan yang digunakan untuk mengendalikan, menolak, memikat, atau membasmi organisme pengganggu. Nama ini berasal dari pest ("hama") yang diberi akhiran -cide ("pembasmi"). Sasarannya bermacam-macam, seperti serangga, tikus, gulma, burung, mamalia, ikan, atau mikrobia yang dianggap mengganggu. Pestisida biasanya, tapi tak selalu, beracun. dalam bahasa sehari-hari, pestisida seringkali disebut sebagai "racun".
Tergantung dari sasarannya, pestisida dapat berupa
• insektisida (serangga)
• fungisida (fungi/jamur)
• rodentisida (hewan pengerat/Rodentia)
• herbisida (gulma)
• akarisida (tungau)
• bakterisida (bakteri)

Ketiga hal diatas merupakan bagian terpenting dalam meningkatkan produksi tanaman. Saya yakin setelah saudara menguasai ketiga hal tersebut, saudara akan selalu yakin dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para petani kita.

Pupuk dan Pemupukan

Pupuk adalah bahan untuk diberikan kepada tanaman baik langsung maupun tidak lansung, guna mendorong pertumbuhan tanaman, meningkatkan produksi atau memperbaiki kualitasnya, sebagai akibat perbaikan nutrisi tanaman. Pemupukan berasal dari kata dasar pupuk yang artinya pemberian pupuk kepada tanaman ataupun kepada tanah dan substrat lainnya.
Fungsi pupuk adalah sebagai salah satu sumber zat hara buatan yang diperlukan untuk mengatasi kekurangan nutrisi terutama unsur-unsur nitrogen, fosfor, dan kalium. Sedangkan unsur sulfur, kalsium, magnesium, besi, tembaga, seng, dan boron merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit (mikronutrien).
Tujuan pemupukan adalah meningkatkan pertumbuhan dan mutu hasil tanaman. Pemupukan diberikan pada saat tanaman menunjukkan sejumlah kebutuhan unsur hara agar diperoleh keefisienan yang maksimal.

Pemberian pupuk padat dilakukan dengan cara ditugal, disebar di atas tanah atau di sebelah tanaman, sedangkan pemberian pupuk daun dilakukan dengan cara menyemprotkan pada daun, bersama air disemprotkan sebagai perlakuan tambahan. Pemupukan secara disebar mempunyai kelemahan bahwa pupuk mudah menguap ataupun terikat dalam tanah.
Unsur-unsur esensial yaitu unsur penting bila ditiadakan maka pertumbuhan tanaman dapat terhenti. Pada saat kekurangan nampak gejala defisiensi, dan fungsi unsur tertentu tidak dapat digantikan oleh unsur lain. Unsur esensial makro ialah unsur penting yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak agar siklus hidupnya tidak terhenti seperti N, P, K, Ca, Mg, H dan O, sedangkan unsur esensial mikro ialah unsur penting yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit agar siklus hidupnya tidak terhenti, meliputu Fe, Mn, Zn, Cu, Cl, Mo dan B.
Dalam rangka melestarikan kesuburan tanah (kimiawi, fisik dan hayati) dan mencegah pencemaran air tanah, maka sistem pemupukan hayati perlu ditingkatkan dan dikembangkan karena efeknya yang ramah lingkungan. Pendekatannya dengan pemanfaatan input lokal (pupuk kandang, pupuk hijau, pupuk kompos, pupuk kascing, pupuk guano, dll) dan input luar yang ramah lingkungan misalnya pemanfaatan bakteri Rhizobium (pada kacang-kacangan), cendawan Micoriza (pada padi-padian) dan pupuk organik cair.
Adapun dasar dalam pelaksaan pemupukan yakni :
1. Kandungan Unsur hara dalam Tanah:-tinggi, sedang dan rendah
2. Kehilangan Unsur Hara melalui:-Panen-Pencucian dan erosi
3. Meningkatkan Produksi 
4. Meningkatnya Ilmu Pengetahuan

Demikian sekilas tentang pupuk dan pemupukan. Semoga bermanfaat.